Langit Jingga Tavisha

Kalau saja cita-cita tak memenuhi otak di kepala
Kalau saja

Mungkin langit tak akan jadi begitu terang hingga menyilaukan

Dia akan temaram
Membentuk rona kemerahan di ufuk barat

Aku selalu suka warna jingga di langit sore
Senja memerah adalah kejujuran paling hakiki di dunia

Polos tanpa tendensi
Tanpa nyaru dan tirai warna-warni

Selorohnya adalah nyata dan tidak diduga
Menyibak realita bahwa pertarungan baru saja dimulai
Lonceng menuju ronde berikutnya

Malam yang gemerlapan
Harus dilalui sebelum datang fajar hari yang baru

Gelapnya membawa syahdu dalam tafakur di sepertiganya
Yang dilalui dengan cara-cara paling mistik dan tak masuk di akal

Aku mencari surga diantara bintang
Di antara sungai yang mengalir di angkasa raya

Kamu begitu keras menampar dalam kenyataan
Bahwa lonceng memang benar dibunyikan
Bahwa kita harus memenangkan pertempuran
Bahwa mimpi akan tetap menyala
Bahwa langit tak akan terus jingga
Bahwa fajar akan datang di ujung malam

Maka di padang kurusetra kehidupan aku akan menghunus pedang dan mengangkat perisai

Percaya saja, sayang
Aku akan pulang dengan kemenangan
Meski berlumur darah dan kegelisahan
Bahwa yang menang harus terus bertahan
Hingga nanti kamu akan mengenakan zirah kebanggaanku
Naik kereta perang yang kubuat dengan tanganku

Berperang dengan musuh yang sama

Waktu.


Tanjungkarang, 7 Mei 2018


Komentar

Postingan Populer