Diskursus Demokrasi Dalam Arus Besar Gerakan Restorasi

Sebatang kretek kembali terbakar, menggiring obrolan sore itu masuk ke ruang yang lebih dalam, meski juga tak lantas jadi terlalu serius. Disela "waktu merokok" dalam sebuah acara kepartaian di Rumah Besar Restorasi Indonesia -sebutan saya untuk kantor Dewan Pimpinan Pusat partai- saya terlibat sebuah diskusi kecil dengan seorang senior di partai dan dunia pergerakan nasional, sebuah nama yang tak asing lagi di dunia aktivis mahasiswa, Willy Aditya. Ditemani seorang senior lainnya, seniman yang sedang menapaki jalan menuju tahapan menjadi intelektual partai, seseorang yang darinya juga saya banyak belajar, Jakfar Sidik namanya. Sudah lama sekali saya tidak berada di dalam momen seperti itu, mungkin sudah hampir tiga atau empat tahun lamanya sejak diskusi konseptual dan dialog kebangsaan terakhir yang saya terlibat didalamnya. Akhir-akhir ini saya tidak banyak terlibat dalam ruang diskusi, lebih banyak rapat kegiatan yang sifatnya teknis saja, politik akhir-akhir ini berjalan datar-datar saja buat saya, yang selalu berusaha mencari lompatan-lompatan besar ide dan gagasan, salah satu alasan dimana saya memutuskan untuk bergabung dalam arus besar restorasi yang menurut saya "menjamin" adanya ruang untuk "berlompatan" itu.
Diskusi sore itu sebenarnya sekilas saja, tapi segera menjadi stimulan yang baik untuk segera memulai langkah memahami dan mengintegrasikan semangat restorasi dalam diri dan lingkungan sekitar dimana saya berproses. Menurut saya itu yang kemudian membedakan dua karakter kader partai, cerdas dan inovatif atau sekedar patuh dan tunduk perintah, yang baik memang keduanya harus ada dalam diri seorang kader restorasi Indonesia. Menjadi pejuang sekaligus pemikir adalah sebuah keharusan.


MENGARUNGI ARUS BESAR RESTORASI

Dalam enam bulan pertama dulu saat awal menjadi kader partai saya sibuk membolak-balik dua buku, putih dan hitam. Saya menemukan kata virtue disana, satu kata yang dikutip oleh sang penulis buku, Bang Willy Aditya, dari pemikir hebat asal Itali yang terkenal dengan bukunya The Prince. Saya segera mengidentifikasi bahwa saya sedang membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang Machiavellian, sebuah model pemikiran politik paling rasional sampai hari ini.
Virtue menurut pandangan saya adalah sebuah ide dasar atau gagasan awal yang harus melatar belakangi apapun yang menjadi langkah seorang kader restorasi dalam berpolitik. Pikiran saya segera melompat ke masa yang saya lewati di kelas politik kontemporer mungkin delapan atau tujuh tahun lalu, dimana kala itu saya berkenalan dengan pasangan suami istri paling revolusioner menurut saya, mereka mengenalkan pada saya sebuah konsep berpolitik dimana relasi kontestasi politik harus berlandaskan ide dan tujuan yang sama, kesejahteraan rakyat banyak. Konsep kawan-lawan bersahaja dalam politik inilah yang kemudian dipandang oleh Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe -nama pasangan suami istri itu- sebagai sebuah jawaban atas kegagalan demokrasi hari ini dalam konteks memastikan bahwa kesejahteraan pasti akan datang dalam kondisi politik negara yang demokratis. Saya juga tak lantas ingin menjadi naif dan menganggap ada korelasi yang equivalen antara demokrasi dan kesejahteraan, tapi lantas untuk apa menjadi begitu demokratis kalau rakyat tak sejahtera. Maka, ide awal dan tujuan dari perebutan kekuasaan itulah yang penting untuk disepakati. Harus ada sesuatu yang melatar belakangi para politisi bertarung dalam kontestasi politik, hal tersebut jika diterjemahkan secara mudah adalah semacam bonum commune atau ruang kebaikan bersama, konsensus tersebut harus merujuk pada kepentingan rakyat banyak, kesejahteraan. Restorasi Indonesia adalah jalan kembali menuju ruang itu, seperti apa yang dilakukan oleh para founding father negara ini.
Seorang kader restorasi harus memegang teguh dua hal penting yang menjadi nilai dasar perjuangan, karakter dasar yang dibangun berdasarkan semangat nasionalisme kepancasilaan dan scientific approach dalam setiap langkah politik yang dijalankan. Dalam pandangan saya, inilah wujud pejuang pemikir - pemikir pejuang yang nyata.
Restorasi adalah sebuah arus besar perubahan, yang hari ini dibutuhkan sebagai jawaban atas tantangan yang datang terhadap kondisi kebangsaan kita. Ditengah terpaan krisis dan carut marutnya dunia perpolitikan dewasa ini, restorasi menjadi alternatif pilihan terbaik sebagai metode berpolitik. Anak-anak muda berpotensi segera menjelma menjadi politisi handal dengan energi baru yang murni, dengan dorongan dari "barisan" politisi senior yang sadar bahwa zaman harus terus berjalan. Relasi yang dibangun bukan lagi patron - klien murni dengan gaya patronase ala feodal, kondisi politik yang cair inilah yang kemudian memungkinkan segala macam inovasi baru dan ruang ekspresi politik menjadi selalu bisa diterima dengan baik. Untuk itu sebaiknya seorang kader restorasi haruslah bisa memanfaatkan arus besar ini untuk berlatih dan menjadi handal dalam berpolitik. Ruang-ruang diskusi dibuka luas, keberpihakan politik dipertegas, rasionalitas menjadi dasar bergerak, pendekatan ilmiah menjadi panduan mengambil langkah, karakter kader yang energis dan berdaya gerak tinggi dengan tujuan politik untuk kebaikan rakyat banyak adalah wujud gerakan restorasi hari ini. Menyenangkan rasanya memang, saat kita bisa berpolitik dengan riang gembira, tanpa harus saling curiga.

Tiba-tiba saja pesawat ini menukik tajam, pertanda sang pilot menurunkan ketinggian terbang, kota Tanjungkarang terlihat di bawah sana. Saya sebentar lagi sampai, Si Bung pun sudah terbangun dari tidur pendeknya, perjalanan udara Cengkareng - Branti memang tak begitu lama, maka saya memilih untuk menulis tulisan pendek ini. Sekedar cerita tentang obrolan ringan dengan para senior, agar saya tak lupa.
Gracias.

Komentar

Postingan Populer