SECANGKIR KOPI, POLITIK DAN SEPOTONG BLUES


Namanya Cortado Tandjoengkarang, berdiri sejak tengah tahun lalu, satu hari setelah hari ulang tahun kemerdekaan. Sebuah tempat, dimana saya bisa benar-benar menjadi saya, melepas topeng dan segala jubah, kembali ke balik meja bar dengan apron dan portafilter di tangan.

Kedai kopi ini kecil saja, tak juga didesain dengan gaya kekinian. Saya dan dua orang teman mencoba memadu-madankan apa yang kami rasa perlu dan sesuai dengan isi dompet, untuk memperlayak kedai pinggiran jalan ini. Entah apa jadinya ketika seorang gelandangan politik macam saya, bertemu dengan dengan seorang senior researcher dan law-firm associate, menjadi satu dalam cangkir cappuccino, bersepakat membuka sebuah kedai kopi. 

Lokasinya ada di pinggiran jalan utama di kota Tanjungkarang, orang bilang wilayah ini bernama Kedaton, mungkin dulunya pernah ada semacam pusat pemerintahan (kedatun) di sekitar sini. Kalau kita sedang menuju fly over yang baru saja dibangun di depan pusat perbelanjaan besar menuju arah Rajabasa, kedai kecil ini ada di sebelah kiri menjelang naik ke fly over. Hati-hati terlewat, karena penanda kami kalah besar dengan toko hijab megah di sebelah.

Kedai inilah yang kemudian menjadi alasan untuk kami bertiga terus berkomunikasi setelah lulus dari kampus, ya kami memang satu almamater dulu di Makara Jingga, meski beda angkatan. Kedai ini jadi semacam ruang tidak serius karena selain itu kami juga (akhirnya) memutuskan untuk membuat ruang serius untuk hobi kami lainnya, sebuah lembaga riset dan penelitian yang dengan percaya diri kami beri nama Cendekia Nusantara. Semacam siasat agar saya juga punya alasan untuk sesekali dalam waktu tertentu bisa berkunjung ke Jakarta, kota dengan segala cerita dan tempat saya menitipkan cita-cita.

Cortado Tandjoengkarang juga adalah ruang dimana saya melarikan diri dari hiruk pikuk politik lokal, buat saya politik tidak singgah di kedai kopi. Tentu bukan berarti tidak ada obrolan politik di dalam kedai, tapi politik di dalam kedai dilihat dalam kacamata lain, dalam perspektif yang lebih santun dan filosofis. Di ruang inilah medan diskusi itu terjadi, bukan sekedar membahas bagaimana cara menang dan menjatuhkan, tapi politik harus diterjemahkan dalam pengejawantahan bonum commune atau kebaikan bersama. Saya rasa, kopi adalah salah satu elemen logistik penting dalam ruang diskusi soal politik. Ya, logika tanpa logistik hasilnya pasti lo gila. Kopi memicu adrenaline, mempercepat kerja pacu jantung dan kerja otak, teman yang sempurna bagi pecandu nikotin seperti saya. Ya, politik memang tidak singgah di kedai kopi, karena politisi yang datang ke kedai kopi. Anda tentu tidak akan pernah bisa mempolitisir politisi. Politik tidak singgah di kedai kopi, ia adalah nyawa dan alasan berdirinya kedai kopi. Seperti berabad lalu, kita mengenal manusia-manusia politis yang menghabiskan hari-harinya dengan diskusi dan menulis dari café pinggiran boulevard.

Kedai kopi ini pula yang kemudian menjadi tempat saya bisa memakai kembali atribut kebanggaan yang belakangan jarang sekali saya jamah. Cortado Tandjoengkarang adalah juga ruang berekspresi saya dalam berkesenian. Musik menjadi kewajiban di ruang ini, anda bisa dengan bebas mengakses speaker dan memutar lagu kesukaan, terutama jika lagu-lagu tersebut beraliran non-mainstream atau berasal dari sub-culture atau scene musik tertentu yang tidak lazim diputar di sebuah café atau kedai kopi. Anda bisa putarkan blues hingga boogie woogie, atau punk hingga metalcore atau bahkan reggae hingga rock-steady di kedai ini. Sebagai teman nonton bareng pertandingan sepakbola dari layar besar yang saya sengaja pasang untuk ritual ibadah sekte Red Army, dimana saya adalah salah satu pengikut fanatiknya. 
Di dinding kedai ada karya beberapa kolega tukang gambar lokal yang saya minta menggambar dinding, dengan embel-embel kolektivitas tentu saja. Sekedar wujud bahwa saya juga mengagumi dunia gambar dan lukis, punya koleksi cat minyak, punya beberapa lukisan di kanvas, ada lukisan yang masih setengah jadi dan menunggu ide datang dari langit, juga menikmati sendiri hasil lukisan yang bentuknya tak jelas. Bukankah itu sedikit syarat agar dibilang seniman. Sebuah kata yang belasan tahun lalu pernah saya coba kejar maknanya. Sempat diterima di salah satu institut kesenian ternama di ibukota, saya terpaksa mengakhiri impian saya dalam dunia seni pertunjukan lebih awal karena faktor ketidak beranian. 

Ya inilah Cortado Tandjoengkarang, sebuah ruang yang bukan hanya berarti tempat ngopi bagi saya, ruang ini adalah tempat melarikan diri, meditasi, kontemplasi dan pemuas hati agar hari-hari yang saya jalani sebagai manusia tak lantas berat sebelah dan berjalan tidak seimbang. 

Gracias.

Komentar

Postingan Populer