Mengingat yang baik jauh lebih menyenangkan.
Hari itu saya lupa tanggalnya, yang pasti sebelum Pilkada 2016, hujan deras. Ditengah ngopi sore bersama Bung Fauzan, tiba-tiba dia mengajak saya beranjak sejenak dari cafe tempat kami biasa ngopi. Saya menyetir pelan ditengah hujan sambil ngobrol dengan si Bung, menanyakan siapa yang akan kita temui sore ini. Si Bung cuma jawab satu nama, Mustafa.
Mobil meluncur ke arah Kedaton, sesuai dengan arahan si Bung, sampai tiba di gerbang rumah yang dijaga beberapa Satpol PP, adzan maghrib berkumandang. Selesai maghrib saya duduk di teras rumah, menunggu si Bung yang masih di toilet. Tiba-tiba seorang pria tinggi besar keluar dari rumah seraya memanggil beberapa orang dan memberi perintah yang saya tak ingat apa itu. Setelah itu, dia melihat pada saya sambil tersenyum, saya baru tersadar bahwa dialah sang pemilik rumah, Mustafa. Tiba- tiba si Bung datang, dan kami dipersilahkan masuk. Duduk di sofa saling berhadapan, si Bung mengenalkan saya kepadanya. Saya hanya mengangguk sambil menjabat tangan dan menyebutkan nama. Obrolan singkat hari itu hanya membahas beberapa hal kecil, saya sedikit heran kenapa si Bung bicara soal kegiatan partai dengan orang ini, tapi saya cuma diam sambil sesekali menegaskan beberapa hal yang menjadi tanggung jawab saya, Indonesia Memanggil waktu itu. Setelah selesai, sambil tersenyum si Bung pamit dengan orang itu. Kata-kata yang keluar sore itu yang kemudian saya pertanyakan kepada si Bung di mobil dalam perjalanan pulang. Si Bung memanggil orang itu dengan sebutan Ketua.
Mobil meluncur ke arah Kedaton, sesuai dengan arahan si Bung, sampai tiba di gerbang rumah yang dijaga beberapa Satpol PP, adzan maghrib berkumandang. Selesai maghrib saya duduk di teras rumah, menunggu si Bung yang masih di toilet. Tiba-tiba seorang pria tinggi besar keluar dari rumah seraya memanggil beberapa orang dan memberi perintah yang saya tak ingat apa itu. Setelah itu, dia melihat pada saya sambil tersenyum, saya baru tersadar bahwa dialah sang pemilik rumah, Mustafa. Tiba- tiba si Bung datang, dan kami dipersilahkan masuk. Duduk di sofa saling berhadapan, si Bung mengenalkan saya kepadanya. Saya hanya mengangguk sambil menjabat tangan dan menyebutkan nama. Obrolan singkat hari itu hanya membahas beberapa hal kecil, saya sedikit heran kenapa si Bung bicara soal kegiatan partai dengan orang ini, tapi saya cuma diam sambil sesekali menegaskan beberapa hal yang menjadi tanggung jawab saya, Indonesia Memanggil waktu itu. Setelah selesai, sambil tersenyum si Bung pamit dengan orang itu. Kata-kata yang keluar sore itu yang kemudian saya pertanyakan kepada si Bung di mobil dalam perjalanan pulang. Si Bung memanggil orang itu dengan sebutan Ketua.
Ketua? Dia ketua kita yang baru Bung? Iya, kata si Bung. Ketika saya minta penjelasan logis secara politis, si Bung cuma jawab, "kalau kita mau besar, ya harus dia ketuanya". Satu logika politik yang sampai hari ini saya amini, setelah hampir satu setengah tahun ada dalam barisan perjuangan bersama beliau.
Saya bukan orang yang mudah kagum apalagi memuji, bukan. Semua teman dekat saya tau itu. Saya bukan orang yang mudah tunduk dan patuh, bukan. Semua yang mengenal saya secara personal tau itu. Artinya ketika saya memutuskan untuk patuh dan bekerja di bawah kepemimpinan seseorang, maka orang itu harus bisa "menaklukkan" persepsi dan ekspektasi saya tentang seorang pemimpin. Mustafa salah satu orang itu.
Beberapa orang menilai dia ambisius dan arogan, saya melihat dia hanya seorang pemimpin muda yang bergelora. Orang bilang dia tanpa perhitungan dan sporadis, saya hanya melihat seorang pemimpin yang berani mengambil resiko.
Hari ini saya sedang tidak ingin membahas apa yang menjadi berita di media nasional. Sudahlah, toh negeri ini juga sudah biasa menghujat orang-orang yang jatuh. Saya lebih memilih mengingat hal baik yang pernah saya lihat dari sosok Mustafa.
Pagi itu saya memeluknya, tanpa berkata apapun. Setelah semalaman terus dihantam badai berita di media sosial dan media online. Menjelang berangkat menghadiri sebuah agenda apel siaga di Lapangan Enggal, saya pamit sambil menjabat tangannya. Dia hanya bilang "makasih, Yo". Malam itu saya baru sadar kalau itu jabat tangan terakhir saya dengan dia. Ada ucapan terimakasih yang diucapnya pagi itu.
Terimakasih kembali Ketua, terimakasih sudah memberikan begitu banyak kepercayaan, ruang mengembangkan diri dan pelajaran yang baik. Doakan saja kami bisa terus berjuang menyelesaikan apa yang menjadi cita-cita kita bersama. Terimakasih sudah menjadi pemimpin, kakak, senior sekaligus kawan seperjuangan yang selalu membanggakan. Salam hormat selalu. Semoga Tuhan selalu bersama kita, memberikan kemenangan untuk kita semua.
Salam Restorasi!
MUSTAFA GUBERNURKU!!!


Komentar
Posting Komentar