Robusta Lampung ; Harum Seduhan dan Perjuangan Petani Kopi
Hari itu pukul tiga sore di penghujung Januari 2014, laju roda mobil biru kesayangan menghantarkan saya menembus terjalnya jalanan menuju Ulu Belu, sendirian saya menyetir dari Tanjung Karang menuju tempat kelahiran ibunda, tujuan saya Pekon Datarajan sudah di depan mata. Saya punya janji dengan pengurus kelompok petani kopi, sekedar mengambil data untuk keperluan thesis saya yang sudah dikejar deadline.
Robusta sudah lama jadi teman keluarga kami yang setia. Hampir setiap anggota keluarga kami merasakan efek manis dari pahitnya kopi robusta, hidup kami memang bergantung pada merahnya robusta tiap musim. Saya dan kebanyakan sepupu saya kerap datang ke Datarajan tiap masa liburan tiba. Memetik dan menjemur kopi biasanya kami lakukan untuk membantu mbah Kakung dan mbah Putri meski faktanya kami lebih bisa dibilang "mengganggu" kerja mereka ketimbang membantu. Saya sering tersenyum sendiri kalau mengingat masa itu, terutama sejak mereka berdua berpulang. Saya rindu masa itu.
Alasan itu yang kemudian membuat saya nekat mengambil tema petani kopi untuk thesis saya, satu hal diluar kebanyakan tema-tema besar yang bersliweran di kepala saya sebagai seorang mahasiswa akhir program magister perencanaan dan evaluasi program pembangunan sosial. Pekerjaan saya di Jakarta saya tinggalkan untuk menggarap karya akhir itu. Saya memutuskan untuk fokus bekerja dan berjuang bersama petani kopi. Tulisan akhir saya menghantarkan saya menyandang gelar master perencanaan dan evaluasi program, dengan janji yang sampai hari ini masih konsisten saya jalani, bekerja dan berjuang bersama petani kopi.
Robusta Lampung adalah satu dari sekian banyak komoditi hasil bumi yang menjadi unggulan ekspor negeri ini. Lampung menyumbang 22% total ekspor kopi nusantara, dimana 60% nya dihasilkan Kabupaten Lampung Barat dan 40% nya dari Tanggamus. Ulu Belu dan Pulau Panggung memiliki kualitas kopi robusta yang tidak kalah dengan Belalau, Sekincau atau Kebun Tebu yang selama ini mendominasi peredaran robusta lokal. Dalam kompetisi robusta nasional tahun kemarin saja, robusta Tanggamus bisa menembus posisi runner up dalam uji citarasa dengan nilai sedikit di bawah Temanggung yang menjadi juara. Paska keputusan dalam International Coffee Day di Lampung, dimana kompetisi seduh harus menggunakan robusta lokal (Batu Brak, score 86 kalau tidak salah), potret robusta memang berubah dimata para penikmat kopi. Robusta bukan lagi jenis kopi kelas dua, robusta yang diolah dengan baik juga punya citarasa yang kaya, bukan hanya earthy. Perhelatan berikutnya di Jakarta kemudian semakin memantapkan posisi fine robusta sebagai salah satu kopi premium dengan standard dunia bersanding dengan arabika specialty yang memang sudah lebih dikenal.
Hari ini, tidak lagi terlalu sulit mencari robusta dengan kualitas terbaik di Lampung, lain hal dengan 4-5 tahun lalu. Petani sudah sedikit merasa aman untuk mengolah kopi dengan standard terbaik, pasar robusta ditingkat lokal sudah membaik. Kalau dulu petani ragu untuk mengolah fine robusta karena harga produksi tidak berbanding dengan harga jual dan ketidakjelasan adanya pasar, maka hari ini petani sudah memiliki posisi tawar yang baik dengan pembeli, karena pola pasar fair trade yang dikembangkan para pejuang kopi era third wave. Secercah asa jelas mengembang di antara gempuran industri kopi yang "mengaburkan" pesona kopi dengan produk instan dan gaya hidup generasi "fakecoffe" penggemar selfie di warung kopi.
Pemain-pemain kopi besar boleh saja terus "berdagang" kopi dan petani boleh saja terus menjual kopi defect, tapi setidaknya hari ini mereka sudah melihat bahwa gerakan gelombang ketiga jelas memberi dampak baik secara ekonomi bagi para petani. Hasil panen mereka yang berlimpah bisa diolah sedikit untuk menghasilkan kopi berkualitas dengan harga jual jauh lebih tinggi dari kopi yang biasa mereka hasilkan. Sekedar nilai tambah dari penghasilan musiman. Senang rasanya melihat petani bisa langsung berinteraksi dengan end-user sambil berdiskusi tentang kopi mereka. Untuk itu pula saya membuka sebuah kedai kopi di Tanjungkarang, sebagai ruang bertemunya para penikmat kopi. Buat kami, kopi adalah tiang besar konstruksi sosial. Seperti istri, kopi adalah titipan. Panjang umur petani kopi nusantara! Gracias.
Robusta sudah lama jadi teman keluarga kami yang setia. Hampir setiap anggota keluarga kami merasakan efek manis dari pahitnya kopi robusta, hidup kami memang bergantung pada merahnya robusta tiap musim. Saya dan kebanyakan sepupu saya kerap datang ke Datarajan tiap masa liburan tiba. Memetik dan menjemur kopi biasanya kami lakukan untuk membantu mbah Kakung dan mbah Putri meski faktanya kami lebih bisa dibilang "mengganggu" kerja mereka ketimbang membantu. Saya sering tersenyum sendiri kalau mengingat masa itu, terutama sejak mereka berdua berpulang. Saya rindu masa itu.
Alasan itu yang kemudian membuat saya nekat mengambil tema petani kopi untuk thesis saya, satu hal diluar kebanyakan tema-tema besar yang bersliweran di kepala saya sebagai seorang mahasiswa akhir program magister perencanaan dan evaluasi program pembangunan sosial. Pekerjaan saya di Jakarta saya tinggalkan untuk menggarap karya akhir itu. Saya memutuskan untuk fokus bekerja dan berjuang bersama petani kopi. Tulisan akhir saya menghantarkan saya menyandang gelar master perencanaan dan evaluasi program, dengan janji yang sampai hari ini masih konsisten saya jalani, bekerja dan berjuang bersama petani kopi.
Robusta Lampung adalah satu dari sekian banyak komoditi hasil bumi yang menjadi unggulan ekspor negeri ini. Lampung menyumbang 22% total ekspor kopi nusantara, dimana 60% nya dihasilkan Kabupaten Lampung Barat dan 40% nya dari Tanggamus. Ulu Belu dan Pulau Panggung memiliki kualitas kopi robusta yang tidak kalah dengan Belalau, Sekincau atau Kebun Tebu yang selama ini mendominasi peredaran robusta lokal. Dalam kompetisi robusta nasional tahun kemarin saja, robusta Tanggamus bisa menembus posisi runner up dalam uji citarasa dengan nilai sedikit di bawah Temanggung yang menjadi juara. Paska keputusan dalam International Coffee Day di Lampung, dimana kompetisi seduh harus menggunakan robusta lokal (Batu Brak, score 86 kalau tidak salah), potret robusta memang berubah dimata para penikmat kopi. Robusta bukan lagi jenis kopi kelas dua, robusta yang diolah dengan baik juga punya citarasa yang kaya, bukan hanya earthy. Perhelatan berikutnya di Jakarta kemudian semakin memantapkan posisi fine robusta sebagai salah satu kopi premium dengan standard dunia bersanding dengan arabika specialty yang memang sudah lebih dikenal.
Hari ini, tidak lagi terlalu sulit mencari robusta dengan kualitas terbaik di Lampung, lain hal dengan 4-5 tahun lalu. Petani sudah sedikit merasa aman untuk mengolah kopi dengan standard terbaik, pasar robusta ditingkat lokal sudah membaik. Kalau dulu petani ragu untuk mengolah fine robusta karena harga produksi tidak berbanding dengan harga jual dan ketidakjelasan adanya pasar, maka hari ini petani sudah memiliki posisi tawar yang baik dengan pembeli, karena pola pasar fair trade yang dikembangkan para pejuang kopi era third wave. Secercah asa jelas mengembang di antara gempuran industri kopi yang "mengaburkan" pesona kopi dengan produk instan dan gaya hidup generasi "fakecoffe" penggemar selfie di warung kopi.
Pemain-pemain kopi besar boleh saja terus "berdagang" kopi dan petani boleh saja terus menjual kopi defect, tapi setidaknya hari ini mereka sudah melihat bahwa gerakan gelombang ketiga jelas memberi dampak baik secara ekonomi bagi para petani. Hasil panen mereka yang berlimpah bisa diolah sedikit untuk menghasilkan kopi berkualitas dengan harga jual jauh lebih tinggi dari kopi yang biasa mereka hasilkan. Sekedar nilai tambah dari penghasilan musiman. Senang rasanya melihat petani bisa langsung berinteraksi dengan end-user sambil berdiskusi tentang kopi mereka. Untuk itu pula saya membuka sebuah kedai kopi di Tanjungkarang, sebagai ruang bertemunya para penikmat kopi. Buat kami, kopi adalah tiang besar konstruksi sosial. Seperti istri, kopi adalah titipan. Panjang umur petani kopi nusantara! Gracias.


Komentar
Posting Komentar