Menengok Kembali Third Wave Coffee Movement

Kalau hari ini jutaan kedai kopi, coffeeshop, cafe dan tempat-tempat ngopi tumbuh subur di belahan dunia manapun, memuaskan gairah para coffeesnob maka berterimakasihlah pada gelombang ketiga dan seluruh elemen pendukungnya. Nama-nama macam Intelligentsia, Stumptown, Counter Culture atau bahkan Blue Bottle adalah nama-nama baru yang menggantikan Peet's atau Starbucks dalam dominasi dunia kopi. Di Indonesia yang kebanyakan pengaruhnya menganut gaya Melbourne style, nama-nama macam St. Ali dan Common Grounds mulai hadir dan memberi warna baru bersama dengan ribuan coffeeshop lokal yang tumbuh subur (meski kebanyakan hanya ikut trend saja) di setiap kota. Tak heran jika sebuah "tempat ngopi" kecil di pinggiran kota dipenuhi oleh brand mewah untuk alat-alat kopinya, yang dulu hanya bisa ditemukan di coffeeshop mahal dan berkelas yang juga jarang bisa ditemui di setiap kota. Manual brewing sebuah kata yang begitu sakti menyihir setiap pecinta kopi, menjadikan kopi adalah sebuah instrumen sakralitas dan membawa para penikmatnya menuju kondisi transendental. Dalam gelombang ketiga, untuk jenis espresso saja seorang coffeesnob bisa menghabiskan waktu 5 menit dalam percakapan menentukan pesanan. Yang pertama ditanyakan biasanya adalah komposisi houseblend yang dipakai ataupun single origin di coffeeshop tersebut, standard rasio untuk satu seduhan untuk menentukan akan memesan espresso atau doppio, dominan notes dalam seduhan sebagai pertimbangan untuk memesan ristretto atau lungo, semua itu dengan catatan apakah suhu dan waktu yang dipakai sesuai dengan standard pembuatan espresso baik dengan mesin atau manual. Ya, kopi memang sudah menjadi barang artisan seperti wine dan cerutu. Barista yang baik adalah seorang penyeduh kopi dengan segala pengetahuan mengenai setiap jenis kopi dan beragam informasi tentang kopi yang akan diseduhnya, belum lagi ditambah keahlian dalam beragam teknik seduhan. Hati-hati mengaku diri sebagai penyeduh kopi hari ini, anda akan dihadapkan pada kenyataan bahwa menyeduh kopi sekarang bukan sekedar "merebus kopi bercampur gula". Satu lagi, jangan pernah menyebut kata "gula", itu kata haram dalam dunia kopi kekinian. Hanya bisa disebutkan dalam jenis minuman espresso based itupun dalam bentuk simple syrup dan jumlah yang kecil, biasanya digunakan oleh coffeesnob pemula.
Sebuah coffeeshop atau kedai kopi selayaknya dilengkapi dengan barisan alat seduh baik manual atau kalau punya modal lebih, sebuah mesin pembuat espresso dilengkapi steam. Sebuah rokpress buatan Inggris biasanya dipajang di depan meja bar, atau kalau memang bermodal besar sebuah mesin espresso high-end berharga puluhan hingga ratusan juta, tergantung sejauh apa tingkat presisi kopi yang diinginkan, tentu juga bergantung pada isi kantong sang pemilik. Anda bisa memilih, sebuah rokpress Inggris manual berharga 3jt rupiah, sebuah mesin single group seharga 10-80jt rupiah atau "mesin tempur" double group di angka 70-250jt rupiah. Belum lagi soal pemilihan brand, dari brand-brand standard macam VBM, Rocket, Nouva Simonelli hingga La Marzocco dan Kees van der Westen yang mewah. Biasanya juga disesuaikan dengan grinder yang sepadan, ada banyak pilihan mulai dari Feima Latina hingga Mahlkoenig atau La Pavoni. Itu belum ditambah puluhan alat seduh manual non-espresso lainnya, seperti Hario V60 yang sedang trend saat ini, Syphon yang selalu terlihat keren, Frenchpress, Moka Pot, Ibrik Turkish methods, Kono Meimon, Kalita wave dan flat bottom, dan masih banyak lagi alat seduh yang harganya juga lumayan menguras kantong. Bayangkan, untuk sebuah Hario V60 ceramic 01 saja kita harus merogoh kocek paling tidak 400rb rupiah, belum lagi Syphon Hario Technica yang saat ini di kisaran harga 2jt rupiah. Untuk ngopi benarkah semahal itu? Ya. Itu tentu saja diluar harga biji kopi yang akan kita seduh, jauh-jauh dari Panama Geisha yang hari ini ada di angka paling tidak 3jt rupiah per kg, untuk satu kilogram Robusta Ulu Belu dengan kualitas fine dengan nilai defect nol saja kita harus rela mengeluarkan uang 150rb rupiah, sedangkan Arabika lokal ada di kisaran 300-500rb rupiah.
Anda yang datang ke kedai kopi hari ini tentu saja merasa aneh dengan fenomena ini, tapi coba anda hitung lagi, anda  diseduhkan kopi dengan kualitas terbaik dengan metode seduh khusus dan penyajian khusus, untuk standard kedai kopi anda diharuskan membayar dikisaran harga 20-35rb rupiah. Berapa untung yang didapat pemilik kedai? Sekali lagi, kopi itu soal passion, hal tersebut yang melandasi gerakan gelombang ketiga kopi dunia. Semangat berbagi cinta dan kegembiraan dalam secangkir seduhan, kopi telah menjelma menjadi tiang besar konstruksi sosial.
Menyeduh kopi bukan lagi semudah menuang segelas air panas ke atas bubuk kopi, menyeduh kopi adalah kegiatan sakral hari ini, yang untuk bisa menyeduh kopi, anda harus benar-benar mengenali kopi. Meski saat ini masih banyak coffeeshop yang sekedar ikut-ikutan trend manual brewing, free trade, organics movement, atau bahkan menjual pemberdayaan dan pendampingan agar diterima dalam arus besar gelombang ketiga dan mengambil keuntungan lewat terdongkraknya penjualan. Banyak pula yang mengambil keuntungan dengan memanfaatkan trend "ngopi" dengan menjual minuman berbasis kopi secara masal. Tentu sah-sah saja, meski secara moral menciderai usaha para penggiat kopi yang selama ini berusaha agar kopi menjadi meningkat derajatnya. Ya, tentu saja ada beda begitu jelas misalnya antara sebotol wine atau scotch whisky dengan miras oplosan pinggiran jalan. Seperti itu mungkin bedanya kopi seduhan dengan produk berbasis kopi yang dijual masal (biasanya dicampur susu dan syrup perasa hazelnut atau caramel, agar rasa kopi asalannya tidak tampak terlalu jelas).
Dalam perjalanannya, kita tentu tidak bisa memaksakan selera pasar. Percaya saya, seperti juga wine dan cigar, kopi akan selalu punya penggemarnya sendiri. Gracias!

Komentar

Postingan Populer