DIALEKTIKA : dialog kita
"Idealisme mati dipenghujung tawa untuk kemudian hidup kembali di tuangan kopi berikutnya."
Orang hidup harus egois, sesekali. Tidak boleh selalu kompromi dengan keadaan. Aku sendiri tidak selalu memilih untuk egois, sesekali. Meski seringkali secara naluriah menjadi serigala, mengunyah kenyataan.
Malam ini mungkin aku akan jadi sedikit melankolis, sendirian, dan tulisan ini mungkin akan sedikit terasa kering dan menyebalkan. Maaf, aku sedang tidak ingin peduli dan tentu saja memperbolehkan siapapun yang membaca untuk berhenti dan pindah frekuensi.
Ini tulisan tentang sebuah ruang untuk menjadi apa saja, ruang kebinatangan yang menghasilkan pundi-pundi uang. DIALEKTIKA.
Dikemukakan pertama kali oleh Aristoteles dan kemudian dipergunakan secara serampangan tapi bertanggungjawab oleh Hegel. Dialektika adalah metode perdamaian dua hal yang saling bertentangan untuk kemudian menyatu dan menghasilkan hal baru. Dialektika tidak lebih filosofis dari seorang pelaku dan korban perkosaan yang akhirnya saling jatuh cinta karena punya anak bersama. DIALEKTIKA. Dialog Kita.
Siapa kita?
Kita adalah sekumpulan binatang jalang yang entah kenapa sudah tiba di masa-masa senja idealisme, tetapi masih asik menatap matahari merah kekuningan itu. Belum rela sinarnya padam dan memilih terkapar tanpa baju dan celana sambil terus menghisap marijuana. Kita hanya tiba-tiba merasa harus membuka mata saat perempuan-perempuan yang jadi ibu dari anak-anak kita mulai bertanya soal uang belanja. Kita adalah para bapak yang menolak tua.
Nasib mempertemukan kita di jalan paling berkelok, penuh kerikil dan gerimis paling menyebalkan. Suatu sore sambil minum kopi. Bicara soal hidup yang mulai terlihat tidak masuk diakal, kita harus menyikapi dengan sebuah keberanian paling keparat dan mustahil. Aku akhirnya maju menghunus parang, babat alas.
Siapa aku? Makhluk nokturnal yang selalu berkacamata hitam saat siang. Berkepala botak dengan topi hitam, penggemar gingham shirt dan skinny jeans, perut buncit berisi segala macam kemaksiatan. Setengah mati ingin jadi politisi, tapi tak pernah punya nyali untuk masuk bui. Tanpa ada yang tau aku memang sudah merencanakan pemberontakan ini jauh hari.
Pikiranku mudah saja. Sepetak halaman tempat belajar sepedaku dulu dan belajar sepeda anakku sekarang, akan berubah menjadi sebuah ruang bermain yang lebih absurd. Ada ruang menyeduh kopi, karena hanya orang yang kurang tersenyum yang tidak suka kopi. Bersebelahan dengan ruang pamer hasil karya para perupa yang berharap orang akan membeli hasil karyanya. Kemudian di tingkatan berikutnya, sebuah ruang lapang untuk menikmati seduhan sambil melihat pertunjukan. Aku suka musik lebih dulu daripada kopi, lalu melukis ternyata bisa membawaku ke dimensi kesadaran lain. Aku hanya mencari ruang untuk melebur bersama ketiganya. Setidaknya aku punya ruang untuk berkesenian sambil ngopi dan mencari uang. Sebentar lagi kelakarnya akan mengudara. DIALEKTIKA, ruang untuk menjadi apa saja.
Mari sini sayang, kita jelajahi kegembiraan.
Mari sini sayang, kita jelajahi kegembiraan.



Komentar
Posting Komentar