Rute Lama : Parabellum
Minggu ini aku menghabiskan seluruh hari dengan terbaring di ranjang kamar. Ternyata paru-paruku mulai merengek minta dikurangi bebannya, tanpa rokok dan angin malam. Tak masalah, aku juga mulai jenuh dengan malam dan kepulan asap kretek. Kuseduh lemon dan teh hijau menggantikan kopi yang biasanya menjaga nalarku tetap menyala. Seminggu lebih tanpa tembakau biasa saja sebenarnya, toh aku memang tak pernah begitu tergantung dengan apapun.
Kubeli sebuah laptop baru, menggantikan laptop kebanggaan yang sudah memberikan aku dua gelar akademis. Sebuah laptop hi-tech untuk manusia purba macam diriku, sebuah simbol modernitas katanya, aku cuma tau si penciptanya bahkan tak pernah punya gelar akademis dan mendirikan perusahaan komputer pertamanya di garasi milik temannya. Buah apel itu cuma mengingatkanku pada Newton dan Harvest Moon, tidak lebih.
Perangkat komputer berjalan itu kubeli dengan niat baik. Aku ingin menulis lagi. Aku ingin kembali bekerja untuk keabadian. Setelah minggu sebelumnya kusaksikan temanku merilis sebuah antologi pertamanya, satu hal yang tak pernah berani kulakukan sedari dulu. Padahal aku meyakini, jauh lebih banyak sajak kucipta dibanding dirinya, lebih bagus pula.
Akhir minggu ini, aku kembali sebentar ke Jakarta. Sekedar untuk minum seduhan chamomile di pusat perbelanjaan paling bergengsi di negara ini. Sekedar saja, sebelum aku harus memasang wajah penuh senyum di sepanjang wilayah daerah pemilihan.
Kuhabiskan waktuku di Jakarta dengan menonton beberapa web series bergaya hipster. Sementara pikiranku melayang-layang antara Odessa dan Bogota. Aku memang belum bisa berhenti bertualang, aku masih haus perang. Aku sedang bersiap untuk perangku sendiri. Parabellum.


Komentar
Posting Komentar