Rute Lama : Percobaan Pertama

Suatu hari Tuhan mengetuk pintu kamarku. Dia memberikan sebuah kenyataan di genggamanku, aku harus kembali ke medan perang kataNya. Maka kukenakan lagi zirah yang pernah menemaniku dalam ratusan pertempuran, kuasah kembali pedangku, kuperbaiki pegangan perisaiku, dan mengumpulkan kembali bala tentaraku. Aku bersiap menghadapi perang yang sama tapi belum pernah kumenangkan, dulu sekali. 

Beberapa tahun lalu aku memutuskan bersepakat dengan waktu, kusudahi perangku. Kumulai rutinitas baru, menjadi tukang seduh kopi cukup menyenangkan buatku. Sambil sesekali mengambil liburan dengan terlibat di beberapa penelitian ringan disela urusan politik lokal yang cenderung membosankan. Sampai suatu hari terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Sebuah perintah datang, aku harus kembali ke tempat dimana aku pernah menitipkan cita-cita.

Kumulai semua dengan rindu. Sesekali aku memang rindu dengan rutinitas lama ini, meski rindu pula yang membuat aku harus berhitung ulang. Situasinya memang tak sama dengan masa belasan tahun lalu, saat aku memulai semua ini. 

Di kota ini aku tak lagi butuh adaptasi, semua masih sama, tiap kenangan masih tegeletak di tempatnya. Masih seperti saat aku tinggalkan dulu, cuma sedikit berdebu. Hari pertama aku habiskan dengan menyeka ingatan. Aku datangi lagi ruang-ruang lama tempat dulu aku pernah berproses, menyapa lagi para pertapa dimana aku dulu pernah berguru, kukumpulkan kawan-kawan yang dulu sama berjuang. Aku sedang menyusun kembali puzzle itu.

Memasuki minggu kedua, setelah semua siap, aku mencoba terlibat dalam sebuah pertempuran. Kuseberangi Laut Jawa, aku menuju timur kepulauan. Percobaan pertama yang lumayan baik, setidaknya aku belum kehilangan naluri dan sentuhan. Dipenghujung pertempuran sebuah pesan datang, segera aku harus bergerak, sebuah misi rahasia harus kuselesaikan dengan cepat dan senyap. Kukontak seorang agen tua untuk menemani perjalanku, selepas dini hari kami bergerak menembus pengapnya udara urban. Matahari belum terlalu tinggi saat kami tiba, kuselesaikan misiku tanpa kendala, saat senja merebak aku dan si agen tua sudah bertolak menuju titik misi berikutnya.


Komentar

Postingan Populer